Selasa, 12 Februari 2013

True Story #JAM





Dang Aji, dkk

JIKA AKU MENJADI…
[Lihatlah lebih dekat, maka kau akan terinspirasi]

~~*~~


Dang Aji Sidik
 Pengayuh Becak

Bang Mad, namanya. Perantau dari Madura yang sudah 10 tahun lebih tinggal di Surabaya. Dia seorang penarik becak. Di tengah panas terik matahari dia mengayuh becaknya, walau sakit sekalipun tidak perduli, kalau tidak bekerja dari mana ia bisa memberi makan keluarganya, kerja hari ini untuk makan hari ini. Penghasilan menarik becak memang tidak seberapa dibanding tuntutan hidup istri dan ketiga anaknya yang sudah bersekolah. Jika Bang Mad menghantarku dan kurasakan kayuhan becaknya pelan, kutahu dia sedang sakit. Dia akan diam, tidak mengajakku ngobrol seperti biasanya. Sabar Bang Mad, hidup seperti roda becakmu, mungkin suatu hari nanti anakmu yang selalu dapat rangking di sekolahnya itu akan merubah masa depanmu menjadi lebih baik.
***

Itsmea Jidhga Pisu Sahany
 Sang Pendamba Sunyi  

Wanita itu menyapa pagi dengan sekulum senyum, merentangkan ruang hatinya lebar-lebar agar sepoi asa hinggap dengan leluasa. Ia berjalan terseok tanpa alas kaki menawarkan barang dagangan berupa alat-alat rumah tangga terbuat dari bambu demi merenda hari yang telah usang. Pur, demikian wanita berwajah sendu itu disapa. Sekilas, mungkin .ia nampak layaknya manusia biasa. Namun sesungguhnya ia berbeda. Kaki dan tangan kanannya tak sesempurna orang-orang di sekitarnya. Sejak kecil ia telah terbiasa berjalan tertatih-tatih dan selalu mengandalkan tangan kiri untuk melakukan berbagai hal. Pun, ia sangat akrab dengan caci maki. Ia bahkan terlalu sering menelan getir lantaran hanya mampu memandangi kedua buah hatinya -yang lahir tanpa ayah- dari kejauhan. Mereka terpaksa diasuh oleh saudaranya agar kedua buah hatinya itu mampu mengenyam hidup dengan lebih indah. Aku tak mampu memahami benar rupa kelindan hatinya. Bagaimana mungkin ia dapat bertahan hidup sebatang kara di sebuah rumah sederhana, tanpa kasur empuk atau kotak ajaib bernama televisi sebagaimana para tetangga miliki. Meski Yem, adik kandungnya tinggal hanya berjarak beberapa jengkal, ia tak merasakan hangatnya kasih sayang. Bahkan sang adik ipar tega 'menjamah' tubuh rapuhnya, melengkapi penderitaan yang selama ini sudah terlalu merajam dinding kalbunya. Namun ia tak ingin terpuruk berlama-lama karena hal itu. Ia juga tak berkeinginan mengemis kasih sayang dari siapapun. Ia masih bersyukur padaNya atas asa nan membara, berharap suatu saat kelak para buah hatinya bersedia memintal hari bersamanya atau paling tidak mendengar mereka memanggilnya "ibu".Madiun, 070412
***
Kamal Agusta
Sesungguhnya Kau Istimewa

Dalam hidup tak ada sesuatu yang sempurna. Begitu pun dia. Namun, semangat dan itikadnya membuatku belajar untuk menjadi sempurna.
Aceng, begitulah nama yang ku kenal darinya. Seorang pria berumur 25 tahun. Terlahir dari keluarga yang tak berpunya.
Aceng, sekilas jika kita melihatnya tak ada yang berbeda. Tapi, coba amati lebih seksama. Kaki yang seharusnya kokoh untuk seusianya, terlihat kerdil dan layu. Tungkai yang lemah itu tak bisa untuk menopang tubuhnya, apalagi diajak berjalan. Tidak hanya kaki, tangan kanannya pun lunglai. Hanya tangan kirinya yang berfungsi.
Aceng hanya lulusan SD. Dia tak mampu sekolah tinggi karena orangtuanya hanyalah buruh batu bata yang menumpang di bedeng orang.
Di keseharian, Aceng bekerja sebagai guru ngaji untuk anak-anak di kampungnya. Meskipun dibayar secara sukarela, Aceng tak pernah mengeluh akan pekerjaannya. Hal ini dia lakukan untuk membantu beban orangtuanya.
Kemarin Aceng cerita padaku bahwa dia ingin menjadi penulis seperti Gola Gong. Dia ingin mengangkat kehidupan keluarganya dari kemiskinan.
Tahukah kamu bagaimana dia menulis? Aceng menulis karyanya di sebuah buku tulis dengan tangan kiri. Jika tulisannya kelar, dia akan meminta temannya untuk merentalkan tuliskannya agar diketik ke komputer. Untuk biaya rental dia menggunakan gaji dari mengajar mengaji. Meski, terkadang Aceng sering berhutang bila tak ada duit.
Aceng sering menanyakan info lomba padaku. Dia sangat rajin ikut lomba. Meski terkadang Aceng harus menelan pahit kegagalan. Tapi, dia tak pernah menyerah.
"Jika kali ini gagal. Aku akan coba lagi. Gagal. Coba lagi. Begitu seterusnya sampai aku tak sanggup menulis lagi."
Kalimat itulah yang sering dia katakan jika mengalami kegagalan.
Jika aku menjadi Aceng, aku tak yakin bisa setegarnya.
Aceng, meskipun kau terlahir dalam keadaan yang berkekurangan. Tapi, kau sesungguhnya istimewa. Tetaplah semangat menulis. Kuyakin kelak namamu akan dikenal sebagai penulis besar.
*teruntuk Aceng, inspiratorku untuk malu jadi pengeluh. Terimakasih atas kisahmu di senja kemarin.
Pekanbaru, 7 April 2012.
***

Ichsan 'kidnep' Effendi
 Si kecil Udin

Udin, begitu nama panggilannya yang selama ini kukenal. Si kecil asal kampung kecil di Nusa Tenggara Timur yang telah ditinggal oleh bapaknya selama- lamanya. Kini ia hanya mampu berjuang hidup demi ibu tiri satu- satunya yang masih setia menemaninya hingga kini. Setiap pulang sekolah, ia tak langsung pulang melainkan mencari ikan di kali untuk bekal makan bersama ibunya. Terkadang jika ia tak mampu mendapatkan ikan hari ini, ia hanya bisa mempersembahkan ubi kayu untuk ibun tercintanya. Begitu nampak gurat- gurat kelelahan dari wajahnya yang mengering jika matahari begitu menyengat. Terlintas dari benakku jika aku menjadi si kecil Udin aku mungkin tak kuat rasanya berjuang demi menghidupi keluarganya setelah pulang sekolah. Padahal setelah pulang sekolah aku biasanya hanya bisa bermain dan malah terlalu nikmat istirahat siang. Tapi baginya tidak seperti yang kulakukan setelah pulang sekolah. Darimu wajahnya mampu kudapat berbagai pelajaran penting tentang pentingnya kerja keras jika ingin mendapat sesuatu yang terbaik.
***

Djayanti Nakhla Andonesi
Pedagang agar-agar

Ya, dia adalah Pak tua, seorang pedagang agar-agar. Sudah lama ia tinggal di rumah bilik bambu itu, sendiri. Ia terkena musibah kebakaran yang menyebabkan ia harus berpisah dengan anak istrinya, selamanya. Hanya ia yang selamat dari musibah kebakaran itu. Sementara di kampung ini, ia tidak punya sanak famili lain. Karena ia memang perantau jauh dari luar pulau. Yang mengagumkan adalah, meski usianya sudah sangat senja, ia masih semangat menjajakkan dagangan hasil karyanya : agar-agar. Walau harus berjalan kaki puluhan kilometer, ia optimis agar-agarnya laris agar bisa bertahan hidup dan menjadi manusia yang bermanfaat.
karawang,08 oktober 2011.
2:04 pm.
***

Arif Rezpector
 Ridho, bocah receh

Tak pernah alpa kumelihat bocah kecil itu. Yang selalu mangkal di perempatan jalan setelah jam pulang sekolah. Ia tak hentinya menyanyi dengan suara sumbangnya, di iringi dengan alat 'kecrek' dari tutupan botol yang di paku di atas bilahan kayu. Tak peduli kulit yang terbakar oleh matahari, desahan nafas yang menyiksa karena asap kendaraan, tangan kiri yang memar karena harus di pukuli setiap waktu. Ketika ku bertanya mengapa ia harus melakukan ini. Dengan nada lirih ia menjawab, "Saya harus tetap seperti ini, agar saya tetap dapat menikmati 'nikmatnya' pendidikan. Meski hanya sampai SD."
***

Titin Mamanya Ella Ellen
 Mbak Yah

Mbak Yah..., begitu biasa dia dipanggil. Seorang perempuan paruh baya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat kost ku. Dia selalu bangun pagi meyiapkan sarapan untuk ku dan keperluan teman - teman kost yang lain. Mbak Yah juga yang mencuci dan meyiapkan pakaian kerja yang akan aku pakai. Malam hari, saat aku pulang kerja sudah tersedia makanan yang dimasak oleh mbak Yah. Jika aku terlambat bangun dari biasanya, dia akan mengetuk pintu kamarku, membangunkan aku, supaya aku tidak terlambat berangkat ke kantor. Ketika aku sakit, mbak Yah juga yang "ngeroki", mengantar ke dokter dan membuatkan bubur untuk ku. Semua yang dia lakukan adalah ketulusan tanpa pernah meminta imbalan. Mbak Yah, hanyalah seorang pembantu rumah tangga, namun dia sangat berperan dalam keseharianku. Terimakasih mbak Yah......
***

Lapezal Buranegaptek Wajowanuanna
 Pengrajin Dapo(Tungku dari tanah liat)

I Bula', wanita Bugis yang kepalanya kini memutih mengiring senja usianya. Seorang seniman menurut nalarku. Seniman yang malang. Bongkah tanah yang diukirnya akan menjelma menjadi "Dapo", yang merupakan alternatif kesekian digunakan masyarakat setelah kompor gas dan minyak tanah. Dapo' dipenuhi ukiran indah. Tak sembarang yang mampu ...membuatnya. Namun miris, ketika I Bula menawarkan Dapo'nya. Rp. 10.000 harga yang dipatok. Tak jarang pembeli yang meminta kurang. Mereka mungkin tak tahu berapa liter peluh yang mengucur dari wajah tua I Bula. Atau menidaktaukan diri atas terik yang tiga hari menindas kulit kusutnya demi sebuah Dapo.

***
Srikandi Darma Aloena Dua

Namanya Pak Dar dan Bu Ifa. Mengayuh biduk dilautan bergelombang. Hidup dan menghidupi diri dan ketujuh anaknya. Bu Ifa memunguti telur dari pintu ke pintu sebutir laba lima rupiah, itupun jika tidak ada yang retak saat perjalanan atau ada yg buruk saat diteliti pengepul. sementara Pak Dar menjahit baju kebaya (yang saat ini sudah sangat jarang peminatnya). Kadang apapun digarapnya. Semua mulut tak bisa hanya mengatup, karena perut terus menuntut. Sepanjang hari dua orang tua ini melupakan lelah, melupakan luka. karena kalau menghirau lelah anak mereka tak mampu sekolah. Kalau menghirau luka, tiap hari hati terluka oleh omelan penagih hutang dari dimana-mana. Lapar itu biasa, sehari bertemu nasi sekali adalah berkah terindah. karena sembilan mulut bukan sedikit biaya. Tapi tekat untuk menyekolahkan anaknya adalah hal yang sangat dia utamakan meski makan hanya bertemu sepotong singkong atau nasi jagung setiap hari. sisanya puasa. Kadang air mata yg hendak tumpah ditahannya demi senyum anaknya tetap merekah. Tapi kerut kening dan wiru di kulitnya adalah tanda.

***
Nata Salama
Pedagang Air Keliling

Aku memang tak mengenalnya. Tapi bapak dengan tubuh renta itu dulu sering kulihat mendorong gerobaknya berkeliling menjajakan air.
Ada sebuah tempat di Bandar Lampung yang mata airnya tak pernah mengering sejak jaman mamaku masih kecil hingga kini. Dan tempat itu menjadi sumber mata pencarian banyak orang sebagai pedagang air keliling. Termasuk bapak itu.
Meski telah renta, tapi semangatnya mengais rejeki patut diacungi jempol. Terkadang aku berpikir, kemana keluarganya yang lain, hingga ia masih harus bekerja berat seperti itu, berkeliling mendorong gerobak dan mengangkat derigen-derigen air.
Entah, bagaimana kisahnya kini, karena sejak kepindahanku, aku tak pernah melihatnya lagi.

***
Aiman Bagea
Perempuan Tangguh Serba Bisa

Rumahnya rumah panggung, namun ringkih, beratap rumbia, berdinding papan, seperti rumah-rumah yang dominan di Pulau Kabaena, sulawesi tenggara. Namanya Yana. Seorang janda beranak tiga yang tangguhnya luar biasa, menurutku. Dia tidak memiliki perkejaan tetap. Hari-hari untuk terus mengasapi dapurnya dia bekerja apa saja. Dia perempuan tetapi bisa mengerjakan pekerjaan lelaki. Dia biasa kerja mengupas kulit kelapa dengan linggis, membuat minyak goreng dari kelapa, kopra, mencuci pakaian orang-orang yang sibuk, dan lainnya. Dia lakukan itu demi anak-anaknya, demi masa depan puta-putrinya kelak nanti. Bu Yana, aku selalu berdoa semoga suatu saat anak-anakmu bisa membuat keluarga kecilmu lebih sejahtera dan bertaburkan kebahagiaan.
***

HC LutHfie
 Penjaga Makam

Tonjolan belulang rusuknya menyatu dengan legam kulit. Membasuh peluh di sela – sela nisan yang menimbun jasad. Menopang karung goni berisi sampah ranah makam. Pandangannya melamur kala senja memeluk dengan manja. Terpekur dalam uluran peziarah yang bersedekah. Mencoba mengganjal sudut perut dengan sebuah jambu di tepi areal makam. Ucapan syukurnya tetap menggalah hatinya. Setidaknya dia masih diberi kesempatan hidup meski beradu dalam bilik kesusahan...
***
Mansur Nggih
Ibu Ul

Bu Ul, itulah panggilan akrabku kepada ibu uliah,beliau sebatang kara,dirumahnya yg sunyi seperti gedung kosong. Beliau pedagang serba bisa , walaupun keadaan fisiknya tdk mendukung. Kakinya cacat sejak kecil,kedua kakinya bengkok dan menderita dwarfisme.
Beliau tetap semangat tanpa ada keluh kesah , beliau tetap rajin ibadah, tak jarang kudengar beliau membaca al quran dg suaranya yg merdu.. Beliau tetap bekerja apa yg bisa beliau kerjakan, yaitu hanya dengan berjualan , dadar-gulung kesukaan anak2 ditempatku. Kadang beliau jualan dedek, nasi aking sbg untuk selingan, dgn jasa tukang becak. Ditengah kekurangannya beliau masih bisa membantu saudaranya.
Serang, 8 okt 2011
***
Tia Marty Al-Zahira
 Pengamen Cilik

Ika nama gadis cilik itu, bermata bulat dengan rambut pirang sebahu bukan karena dia Indo tetapi pirangnya karena gadis cilik itu bersahabat dengan matahari dan hujan bernyanyi dari satu angkot ke angkot yang lainnya dengan suara cempreng dan bungkus bekas kantong permen dia menadahkan pada setiap penumpang yang duduk. Dia sosok ceria yang tak pernah mengeluh, sosok tegar dalam menghadapi segala cobaan hidupnya. Gadis cilik itu penopang ekonomi untuk keluarganya namun ada doa yang tersirat di bibir tipisnya bahwa dia ingin bersekolah seperti teman-teman sebayanya.
***

Eric Keroncong Protol

Pemecah Batu Sungai

Aku menyaksikan desa di Randumerak Paiton yang setiap hari bekerja menjadi pemecah batu sungai. Tak memandang sinar mentari yang bergelantung, para-para pemecah batu sungai yang rata-rata berpenghasilan minim itu terus mengeluarkan otot-ototnya demi kelangsungan hidup keluarganya. Jika aku menjadi pemecah batu sungai mungkin aku tak akan sanggup duduk dibawah sinar mentari yang menyengat, memukul batu-batu besar yang akan dihancurkan. Inilah potret kehidupan Indonesia.
***
Firsty Ukhti Molyndi
 Tukang Urut

Aku mempunyai tukang urut langgananku. Namanya Mbah Goprak. Usianya sudah 80 tahunan tapi semangatnya mencari nafkah tak pernah pudar. Dia tinggal bersama anaknya yang bekerja sebagai sopir dan cucu serta menantunya di sebuah rumah kontrakan kecil di dekat SDku dulu. Biarpun sering mengalami berbagai kesulitan hidup, wajahnya selalu kelihatan ceria. Tak jarang ia mengeluarkan airmata saat menceritakan kisah hidupnya yang harus mengurus 5 orang anak laki-laki sendirian karena suaminya meninggal dalam kecelakaan truk. Suaminya seorang supir pengangkut pasir. Dan tak jarang pula ia menangis berterima kasih kepada kami yang sering memberinya sedekah..

***
Hylla Shane Gerhana
 Balada Pengamen Kecil

Hidupmu fenomena jalan raya, nyawamu tergantung di antara pita suara. Kaubertanya pada dunia, “Mengapa Ayah Ibu selalu menderita.” Mereka mengajarkan jangan pernah teteskan air mata.
"Hei kamu buta Ya!" t...eriak kondektur dengan mata serigala. Karena tangan kecil terkulai tanpa daya hampir jatuh tergelantung di pintu terbuka. Seharian ini perutnya belum terisi apa-apa cuma udara kota lalu dimulailah cerita lagu lama.
"Tuk menghibur semua sekedar buat 100 rupiah tanda mata dari yang berhati berasa.
Hari itu sembab wajah berduka. Ibunya yang penuh kasih, berpulang kealam baka. Sakit dengan obat yang melangit harganya yang tak terbeli kecuali ditebus dengan nyawa. 
***
Anung D'Lizta
Guru

Sejak kecil impianku menjadi guru.Namun karena keadaan yang membuat keluargaku tidak mampu menyekolahkanku akhirnya aku menjadi babu.Karier itulah yang sedang aku jalani meskipun aku sering mengadu.Demi ketujuh adik-adikku aku mampu bertahan.Seperti hari biasa tugasku mengemas rumah dan menjaga tanaman aku sering berkhayal kelangit ketujuh... dan disana aku temukan sebuah mimpi. Mimpi yang aku harakan akan terpenuhi.Guru,aku ingin jadi guru dan memberi ilmu pada anak didikku.Tapi sekarang status Guru yang kuraih bukan dari gelar sarjana maupun diploma.Aku tetap dipanggil guru karena aku mengajari adik-adikku untuk menjadi anak-anak yang membanggakan keluarga dan bangsa.
***
Fitri Elfad Burhani
Pemulung

Aku menyebutnya mbak Mi. Wanita yang lahir dengan keadaan cacat kaki. Sehingga berjalan pun harus terseok. Menembus gelapnya pagi demi sesuap nasi. Mengumpulkan botol bekas dan mengorek sampah. Berjalan di bawah matahari sudah menjadi makanan sehari-hari. Memikul karung dengan raga kecilnya.
Mi.. masih ada juga lelaki tega menodai. Menjadikannya orang tua tunggal untuk membesarkan seorang bayi. Bayi yang mungkin tak pernah diharapkannya namun kini begitu disayangnya. Menjadi seorang ibu sekaligus bapak bukanlah pilihannya. Namun apa daya jika lelaki bejat itu tak kunjung bertanggungjawab.
Mbak Mi, semoga putri kecilmu yang kelak menjadi kunci surga bagimu..

***
Jannatul Zahra

Dia sering dipanggil Acil di kampung nya bekerja beliau mpy 5 orng ank &hanya memiliki sbuah warung kecil disebelah rumahnya acil acil sangat pekeja krs hari acil bngun sblum matahari dtg acil sdh memulai aktivtasnya , acil jg dikenal sgt baik&rajin beribadah& berkat keras mengais rezeki kini acil bs mengantarkanke 5 anknya m mjd sarjana hanya dr sbuah warung yg kecil. Bahkan anaknya ada yg mendudki jbtan pnting
Andai aku menjadi...
***

Hudha Abdul Rohman
 Penjual Pecel

Terlihat seorang perempuan renta,wajahnya hanyut dimakan usia. Mbok Nah,seorang penjual pecel keliling asal Madiun yg merantau ke Surabaya,sejak pukul 3 dini hari,suara riuh mulai terdengar dari dapur reotnya.Berjualan hingga pukul 2 siang,lalu kembali membantu suaminya yg bekerja sbg tukang tambal ban disamping Kampus B Unair hingga malam merayap. Ya,demi ke 4 anaknya yg membutuhkan bnyak biaya utk sekoLah..
***
Adi Rha Leopaki
Perahu Tambang

Mbah Kur cangklong diatas perahu tambang tua. kepulan asapnya tak pernah berhenti dari bibir keringnya. Lebih 30 tahun dia melakukan aktifitas yang sama. Dulu Subuh begini berulangkali dia bolak balik perahu tambangnya. Sekarang banyak perahu saingan yang berjejer sepanjang sungai Berantas. Rata rata memiliki tenaga mesin. Hanya mengandalkan galah bambu keberadaan perahunya makin terpinggirkan. Untuk membeli mesin? Terlalu mahal.
"sekedar mengepulkan asap dapur saja sudah cukup, anak anak sudah pisah semua" Katanya.
Untuk mengisi hari tua dan tidak ingin tergantung pada anak anaknya. Pak Kur tinggal dengan istrinya tetap beryukur atas rejeki yang ada.
***
Tuti Salamah
Emak Rif namanya, dia seorang ibu yang harus menghidupi dan mendidik anaknya seorang diri, sementara sang suami mendekam di sebuah hotel prodeo karena suatu skandal. Aku lihat setiap malam di pojok rumahnya dengan penerangan lampu lima watt, tangan beliau begitu lincah menggoreskan lilin membentuk motif bunga di sebuah kain putih. Emak Rif baru akan menghentikan pekerjaan membatiknya ketika jam berdentang dua belas kali, bahkan kadang kala sampai dini hari. Dan biasanya pada waktu sepertiga malam beliau akan sahur, karena esok harinya beliau lebih rela perut ketujuh anaknya kenyang. Terlebih untuk anak-anaknya yang masih sekolah SD.
Jika aku menjadi dia….
***
Nurlaili Sembiring
Bu Ami, kepahitan dalam mengarungi kejamnya dunia tak tampak dari raut wajahnya. Semangat, kesabaran dan ketegarannya mampu menenggelamkan segala beban di pundaknya. Senyumnya selalu terkembang di balik tuntutan hidup yang kian memuncak. Menjadi tulang punggung keluarga demi ke-6 anak-anaknya yang masih bersekolah.
Sejak pagi hingga petang tiada henti ia berkerja. Pagi ia menjadi buruh cuci, siang hari ia menjual penganan di sekitar Stasiun Bus. Dan sore hari kulihat tangannya yang telah berkerut termakan usia itu begitu cekatan membuat keranjang yang berbahan dasar bambu. Sesekali tanganya terluka, berdarah karena tersayat bambu tersebut
”Tak mengapa, demi anak-anakku,” katanya. Ah…jika aku menjadi dia?
***
Noor Siti Halimah
Semangatnya sungguh luar biasa. Setiap pagi ia berjalan kaki mengantar anaknya bersekolah di PAUD terdekat yang ada di desa Cacaban Kidul.
“Nyong telung taun nganter anak ora pernah bosen, kala-kala nyong gendong, harapane dadi anak soleh lan pinter*”, tuturnya.
Jarak PAUD tiga kilometer dari rumahnya, melalui sebuah tebing terjal. Ia pun masih harus membantu menghidupi keluarga. Mengumpulkan daun-daun cengkeh kering di hutan untuk kemudian dijual kepada pengepul.
*Saya tiga tahun mengantar anak tidak pernah bosan, terkadang anak saya gendong, harapannya bisa menjadi anak soleh dan pintar.
Bu Aisyah dan suaminya hidup dari hutan. Namun semangat belajar mereka tidak pernah padam. Tiga hari dalam seminggu mereka mengikuti kegiatan belajar kejar paket di rumah kepala dukuh bersama penduduk setempat lainnya.
***
Dee Ann Rose
"Jadi itu orangnya!" Aku berseru melihat seorang wanita yang ditunjuk ibu. Dia sedang berkeliling menawarkan ayam kampung milik Pak Aman. Perawakannya pendek, kurus kering dan menonjolkan urat. Tidak sepadan dengan usiany. Namun sorot matany memantulkan binar smangat. Aku merasakan itu. Lilis. Namany cepat melekat dalam fikiranku saat ibu mengatakan, "Ceu Lilis itu punya 16 anak". Mndengarnya, aku bergidik. Apalagi saat tahu suaminya hnya seorang kuli yang ingin mnikah lagi! Oh, jika menjadi dia?
***
Faiz Fathur Roshan
Amirul. Bocah kecil yang setiap harinya sama saja dengan bocah lainnya. Pagi, pergi ke sekolah. Tak hanya belajar, tapi juga bermain dengan teman sebayanya. Baju seragam merah putihnya memang sedikit lusuh dibanding yang lainnya. Air di rumahnya memang kurang jernih. Pulang sekolah barulah ia lain dari anak seusianya. Ia harus merasakan kepayahan. Mengumpul tangkup-tangkup air pada dua buah ember, yang dibawanya sekali pikul. Berulang ia timba air dalam sumur tetangganya. Jarak dari rumahnya hanya 100 meter saja. Memang hanya sumur itu yang tidak kering di musim seperti ini. Dengan tangan-tangan kecilnya, selalu ia penuhi bak mandi di rumahnya.
***
Jefri Setyawan
Pernah dipanggil-panggil, pernah juga dijawil. Sejak kecil Susi Rahmaniar tak pernah kepikiran menekuni pekerjaan sebagai juru rias jenazah seperti saat ini. Namun, perempuan 34 tahun yang beralamat di Jl.Panglima Sudirman 43 ini beralasan tuntutan hidup membuatnya tak bisa menolak. Susi, wanita yang sering disapa demikian itu diterima di perusahaan Saeka Praya yang bergerak di bidang pelayanan jenazah Desember 2002 lalu. Awal dari masa kerjanya ia sempat mendengar suara tangisan aneh dalam kamar rias berukuran 3x4 meter. Sempat ia dijowal-jawil tatkala itu, ia hanya diam. Kini, pekerjaanya itu ia lakukan dengan sangat biasa. Sebiasa perasaannya ketika menyeruput teh manis di sore hari.
***
Leni Nur Hikmah
Jika aku menjadi -pengamen kecil

dia kujumpai pertama kali di senja ramadhan lalu, sedang mengantre makanan gratis yg dibagikan di masjid salman. Dia masih kecil, 3 SD,mungkin. bajunya sederhana, polos, tipis, kebesaran dan banyak noda kusam di ujung2nya. besoknya,kujumpai lagi dia. bukan di salman, kali ini di persimpangan dago. masih dengan baju yg sama. dia tersenyum, menyembulkan sedikit kepala dan bekas aqua gelas ke pintu angkot yg sedang mandeg karena lampu merah. dia menyanyi,sedikit dengan napas terengah. gemerincing koin yang tak seberapa di gelas plastiknya itu seolah adalah keajaiban yang tengah Allah anugerahkan padanya. dengan berbinar, dia mengucap syukur dan terima kasih. dia beranjak, setelah tak lupa memberi kami senyuman kedua. dari jendela kulihat dia, dengan kaki2 kecilnya, berlari dari satu angkot ke angkot lainnya. sesekali dia menengadah ke langit, tersenyum. setelah itu dia menyeka peluh diwajahnya, dan kembali berlari, menyanyi, dan tersenyum untuk tiap2 koin rezekinya yang diberikan oleh Yang Maha Pengasih, pagi ini.
***
Hisa Erika
Nenek Penjual Buah

nenek brbju kumal it tinggal sendirian d gubuk sgt sempit yg mnempel d bibir sungai tak jauh dr kampusq. Nenek renta yg tlah bungkuk it sebatang kara. Tiap hr dgn setia ia mnunggu dagangan buahx(yg kbnykn hmpir busuk krn sepi pembeli) yg dgelar seadax d pinggir jln dkt jembatan. Prnh aq & tmnq hendak mmbrix sdkit uang,tp ia mnolak. Ia hny mau mnrima uang hsl pnjualan buahx, hsl krjax. Kgigihan prjuangan hidupx sgguh luar biasa.
***
Dhede Herlino Rasa Duren
Mak Emin, tukang urut keliling....

Cacat tubuh bukan merupakan masalah yang bisa menyebabkan masa depan kita suram. Mak Emin wanita tuna netra yang berjuang mempertahankan hidup dan kedua anak angkatnya harus mencari nafkah sendiri, semenjak suaminya menyeraikannya dan pergi dengan wanita lain. Mak Emin berkerja menjadi tukang urut keliling setiap harinya, terkadang tidak ada yang memakai jasanya ia pun tetap bersyukur kepada ALLAH. Jujur saja, saya terkadang merasa menjadi manusia termiskin, padahal jika kita melihat keluar akan ada lebih banyak orang yang lebih jauh dari pada kita...
***
Budi Fairuz Afghanisthi
Bidadari Rentaku

Fajar menuruni tangga pagi basah karena embun iringi semangatnya yang tak kunjung reda ..ringkih..uzur..renta..mengguratkan garis garis perlawanan derasnya arus hidup pada usia senjanya. Tak terlihat bosan dan masih tetap cekatan seperti 30 tahun dulu saat pertama berjualan, membungkus kecil kecil nasi uduk lalu di jual kepada anak anak sekolah madrasah dekat rumahnya. 15 tahun lalu suaminya di PHK dari buruh pabrik pengolahan karet lalu sakit sakitan sampai sekarang. Ia adalah emakku. Sebentuk rasa yang sangat begitu sulit ku berikan pada bidadari bertelapak syurga ini. melahirkan berjuta energi dan inspirasi bagi kami anak anaknya.
***
Yulina Trihaningsih
Bang Udin, Petugas Sampah.

Bang Udin, sosok yang tidak banyak bicara, namun jasanya sungguh luar biasa. Setiap hari, tugasnya memindahkan sampah-sampah rumah tangga dari tempat sampah ke gerobak besarnya, untuk kemudian dia bawa ke tempat pembuangan sampah di luar komplek ini. Bahkan bangkai-bangkai busuk binatang seperti tikus, dan terkadang kucing yang terlindas mobil, harus beliau hadapi tanpa keluhan.
Pernah suatu hari, dengan sedikit malu, dia serahkan selembar kertas foto copy untukku. Isinya ternyata undangan acara khitanan anaknya yang ditulis dengan tulisan tangan. Aku terenyuh. Mungkin, bagi sebagian orang dia bukanlah siapa-siapa. Tapi, tanpanya, tidak bisa kubayangkan akan jadi seperti apa lingkungan rumah kami.
***
Sekar Kusuma Dewi
Penjual Cobek Keliling

aku sering melihat bapak tua penjual cobek itu! Kutaksir usianya sekitar 50an. Tubuhnya kurus dan hitam legam yang mungkin menjadi bukti betapa kerasnya dia mengais rejeki. Dipundaknya terpikul 20 cobek.Berjalan kesana kemari menjajakannya dengan harga tak seberapa dan tak sebanding dengan lelahnya,yang kadang juga tak satupun laku hari itu. Ah,tapi tak pernah kulihat guratan kesedihan diwajahnya. Selalu tersenyum menjajakan cobeknya dan pantang menyerah. Sedih aku melihatnya,harusny diusianya dia bisa menikmati hidupnya.
Tapi memang terkadang begitulah hidup.
"aku tak kan sanggup sekuat bapak tua itu, walau aku masih muda. 20 cobek terlalu berat untukku"
***
Een 'Ainun Kurnia
Kakek Berbahu Beton

Setiap pagi, puluhan kilometer ditempuhnya. Dengan berkendaraan kaki dan sebilah pikulan tersampir di kedua bahunya, membawa dua keranjang pisang ke pasar. Terbayang berat dan melelahlan! Tapi tidak bagi kakek yang kujuluki "Berbahu Beton". Tanpa putera puterinya, selain didampingi isterinya. Di enampuluh tahun usianya, beliau masih harus membanting tulang demi menyambung hidup. Jarak dan nihil fasilitas tak lagi soal. Begitupun tandusnya kasih sayang dari anak-anaknya menjadi kegetiran yang sudah mengakrabi hari-hari rentanya berjuang melawan kemiskinan. Walaupun rupiah tak seberapa, lisannya selalu dekat dengan kesyukuran. Tak pernah mengeluh dan menempatkan dirinya "tidak" bertangan di bawah, sudah menjadikannya kakek yang luar biasa.
 Karawang, 8-Okt-11/14.59
***
Ayya Nurhayani Nasution
Darma
Pagi masih dingin, saat aku hendak berangkat menunut ilmu,pandanganku tertuju pada anak itu. Pilu aku menatapnya ya allah..., usianya sebaya adikku yang masi duduk di kelas 5 SD. Ia berjuang dalam gigil sembari memeluk adiknya di emperan toko, aku tau raut yang kusam itu sangat lapar. Dia menjajakan suara demi perutnya dan adiknya. Aku mendatanginya sepulang sekolah, ia mengadu padaku tentang getirnya yang dibuang orangtuanya karena tak mampu mengurus mereka berdua. "Jangan menyerah Darma, kakak yakin allah memberikan masa depan yang indah untukmu dan adikmu, makanlah nasi ini, setiap hari kakak akan mengunjungimu."
***

Atieq Ilham
Laki-laki penarik gerobak

Tiap sore, laki-laki itu melintas di halaman rumahku. Dengan menarik gerobak berisi barang-barang peralatan rumah tangga. Badannya kurus. Sepintas beliau terlihat normal. Namun bila diperhatikan tangan kanannya tak berfungsi. Karna kecelakaan yang membuat tulang tangan kanan patah. Walau istrinya seorang guru, namun beliau tak mau berpangku tangan mengandalkan istri. Setiap pagi beliau menjaga toko kelontong, siangnya ketika istri pulang mengajar, beliau menjajakan dagangan keliling kampung dengan gerobaknya. Bahkan ketika ada orang yang mau membantu ketika beliau kesusahan menaruh barang dagangan. Beliau akan menolak dengan menjawab, terimakasih aku masih bisa sendiri. Beliau tak ingin dipandang lemah karena kekurangannya.
***
Sri 'ade' Mulyani
 Unang

Jangan bayangkan sosok pelawak terkenal di televisi jaman dulu. Unang yang ini seorang pedagang asongan yang seringkali mampir di halaman rumah kami saatku kecil. Bocah laki-laki bertubuh tak sempurna. Tangan dan kakinya mengecil akibat penyakit polio. Dengan kotak yang selalu diikat tali dan dikalungkan di lehernya, lengkaplah cara berjalan khas Unang. Bicaranya tak jelas, tapi ia cukup cerdas untuk menjajakan dagangannya dan menghitung uang kembalian.
“Dimana Unang sekarang?” tanyaku pada Ibu.
“Terakhir ibu ketemu sudah sangat lama. Ia bekerja membantu orang menyebrang jalan”.
Unang, kau mengajarkan ‘keterbatasan’ bukanlah alasan untuk berpangku tangan.
***
Muhammad Ikhsan Kamal
Adul sang peminta...

Adul, kami menyebutnya. Dia adalah mualaf yang tinggal di sebuah pesantren yang sangat sederhana. Mereka hidup dari belas kasihan orang lain. Mereka dari pintu ke pintu untuk sekedar meminta sodakoh.
Biasanya ia datang pada sore hari bahkan malam hari di akhir bulan. Dengan menenteng sebuah kantong plastik hitam, ia buang rasa malu untuk selembar uang seribu rupiah. Miris hati ini bila kulihat ia meminta.
 Jika aku menjadi dirinya, aku mungkin tidak akan sanggup menjalaninya. Bahkan aku malu untuk mengetuk pintu rumah orang lain.
 Aku sangat kagum akan ketegarannya. Ia tak pernah mengeluh akan hidupnya. Ingin sekali aku berkunjung ke tempat ia tinggal dan menyampaikan rejeki mereka yang Allah titipkan padaku...
Bogor, 8 okt 2011.
***
Febri M Rizkisastra
Penjual lontong
 Mak Atik begitulah aku menyebutnya, ibu separuh baya yang masih getol bekerja demi memuaskan hasrat batinnya yang suka berjualan, padahal anak-anaknya sudah menikah dan hidup lumayan. Setiap hari lelah kerap membayang dan tumpah menjadi tanak pada tiap-tiap lontong buatannya. Suatu hari anak bungsunya berinisiatif menyuruhnya berhenti jualan agar dapat istirahat total, namun anak sulungnya malah menitipkan anaknya yakni cucu Mak Atik ini kepadanya, bukan mengurangi letih yang menyerang hari tuanya, kini Mak Atik semakin renta dengan diselimuti keletihan lahir dan batinnya.Mak semoga engkau tabah meski gundah lantas buatmu susah!
***
Oksa PuKo YuZa
Lelaki Itu..

Setiap pagi kulihat lelaki itu. Lelaki yang kutafsir sudah berkepala enam. Lelaki yang di tangannya bertumpuk kertas. Lelaki itu membawa kabar dari belahan dunia. Awalnya aku menyukainya karena ia selalu membangunkan pagi. Tapi suatu hari, lelaki itu membuat darahku bergumpal, gerahamku menjadi besi. Bagaimana tidak, suaraku sudah hampir mengalahkan jeritan elang , tapi lelaki itu tak juga menengok.Padahal, aku ingin membeli kabar yang dibawanya. Aku sangat marah. Lalu aku berlari mengejarnya. Dan ketika mataku mendekap wajahnya. Ketika aku ingin meludahinya dengan caci. Seseorang menepuk punggungku, ”Dia tuli, Nak” . Aku berlari, aku menangis. Lelaki itu, lelaki luar biasa.

***
El Fasya
Peniup Peluit Kehidupan

Entah siapa namanya. Yang aku kenal hanyalah tekad dan perjuangannya, kokoh ditumpukannya pada dua tangan. Sering aku melihatnya, bukan di perempatan dengan tangan menengadah, mengais iba untuk badan tanpa kakinya itu. Melainkan ia meniupi peluit kehidupan miliknya.
Ditapakinya aspal panas dengan telapak tangan yang kian terpanggang. Berbekal peluit, tekad, cinta, serta doa. Dipandunya mobil dan motor agar terparkir rapi di pelataran rumah makan.
Terik, debu, aspal panas, ataupun seragam yang kian lusuh sudah diacuhkannya. Ia hanya ingin meniup keras-keras peluit kehidupan untuk anak istrinya.
***
Mawar Putih
Penjual Pepaya

Terlirik mata pada seorang bapak yang berjualan di pinggir jalan di seputaran daerah Darussalam. Memang tak banyak yang ia bawa. Hanya beberapa saja. Terkadang pun, ia hanya menjual dua atau tiga buah pepaya. Ia selalu setia didampingi dan dikawali seorang bocah lelaki kemana saja. Dari pagi hingga senja ia tetap sabar meski tiada pembeli yang menyapa. Ada rasa haru biru dalam relung kalbu. Betapa tidak, kawan? Disaat yang lain lebih memilih mengemis di jalan raya, ia tetap berusaha meski tak punya fisik sempurna. Dia itu BUTA, tapi MAU BEKERJA. Itu yang aku suka..
 Banda Aceh, 08/10/2011.
04.15 pm.
***
Sofi Bramasta

Nini Dahri
Wanita renta sebatang kara, tak punya putra atau pun saudara. Anak angkatnya sudah kembali ke rumah orang tua kandungnya. Rumahnya di pojok desa, beralaskan tanah beratapkan gedek. Mencari kayu bakar dan memetik daun singkong kerjanya, hanya untuk menyambung hidupnya. Terhuyung-huyung badannya saat membawa air dari rumah mertuaku, aku tak tega melihatnya, ku bantu dia membawakan air dua ember. Kadang juga ada tetangga yang membantunya. Setelah beberapa hari tak melihatnya, tetangga penasaran dengan nini Dahri. Begitu ada tetangga datang ke rumahnya ternyata tubuh nini Dahri sudah terbujur kaku di atas tanah. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.
 ***

Ratrya Khansa A
Peminta Cilik

Tanganmu kaku. Tubuhmu begitu dekil. Baju yang kau pakai sudah lusuh, rombeng pula. Aku kasihan padamu. Kulihat kau duduk di tepi jalan dan berkata, "Mbak... Mas... Saya ingin beli buku tulis..." dengan harapan dalam hati ia ingin bersekolah. Disampingnya ada beberapa orang wanita tua yang tengah tidur lelap seakan tidak akan pernah membuka matanya lagi. Ia duduk tanpa alas, selembar koranpun tidak. Dia duduk kedinginan, meringkuk... dan tentunya sedih. Setiap hari kau berjalan kesana kemari demi sesuap nasi. Sungguh nasibmu...
 ***

Erma Rostiana D
Jika aku menjadi Mang Mamat, lelaki tua yang menjadi penjaga kandang ayam, aku tidak akan sanggup tinggal di sebuah rumah yang sangat sempit dengan kamar mandi terbuka dan dinding yg terbuat dari bilik. Aku tak akan sanggup mencium kotoran ayam setiap hari. Aku tak akan sanggup memikul berkarung-karung pakan ayam. Aku pun tak akan sanggup berada dalam kesendirian, jauh dari anak istri yang tercinta. Mang Mamat, sungguh tegar hatimu. Semoga rahmat Allah senantiasa menaungimu.
 ***

Herdoni Syafriansyah
Mereka

Bila aku telah mempunyai keluarga sendiri, aku ingin menjadi seperti kedua orangtuaku. Kasih sayang mereka, cinta kasih mereka, semangat mereka, kerja keras mereka demi kami, mereka adalah muasal dari segala inspirasiku.
Mereka hanyalah seorang petani biasa yang menanam padi pada sebuah sawah sewaan di ujung desa. Dahulu, saat masa-masa masih teramat sulit, untuk pergi ke sawah sewaan tersebut -sebelum merah fajar menyingsing- Ayah telah membonceng Ibu dengan menggunakan sepeda Jengki warna hitam menempuh jarak delapanbelas kilometer pulang-pergi, setiap hari.
Aku berharap dapat menjadi sehebat mereka, bila nanti aku telah berkeluarga. Mereka adalah muasal dari segala inspirasiku.
 ***

Ikbal Tawakal 

Ibuku.

Barangkali aku akan lari secepatnya meninggalkan kehidupan ini. Betapa hidupnya terkekang oleh utang. Utang budi serta uang. Meniupkan napas-napas pada kedua anaknya saban hari, sedang kantongnya telah habis terkuras bertahun silam. Nafkah suaminya tak cukup belikan beras. Maka tak ayal buku-buku diarinya kini penuh dengan catatan uang pinjaman. Alangkah rona matanya kini suram, tak cerah layaknya dulu.
 Sungguh, aku tak ingin divonis menghiperbolis Bundanya sendiri.
 Tapi...
 ***

Rini Bee Adhiatiningrum

Pemijat Tunanetra

Namanya mak Kayah. Perempuan setengah baya dengan keterbatasan penglihatan. Setiap hari, dilangkahkannya kaki rentanya menyusuri gang-gang sempit untuk kemudian berjalan dengan dibantu sebilah tongkat menuju rumah pelanggannya. Sesampainya di sana, tangan rentanya akan memijat perlahan untuk kemudian diupah dengan beberapa lembar uang puluhan ribu, disesuaikan dengan kemampuan sang pelanggan. Ia menerimanya dengan ikhlas.
Sepeninggal sang suami, ia hidup sendirian tanpa seorang anak. Hanya kemenakannya saja yang menemaninya. Itupun hanya untuk meminta uang dengan memaksa dari hasil keringat mak Kayah yang didapatnya dengan susah payah. Mak Kayah, meski hidup serba kekurangan , ia tak segan menyisihkan hartanya untuk mereka yang membutuhkan.
 ***

Linda Puspita

Rumah terbuat dari bilik, atap daun rumbiah dan hidup berpindah-pindah. Meskipun memproduksi batu-bata tapi tak diijinkan menikmatinya. Bisa kecukupan makan saja syukur. Anak-anak disana sudah dipekerjakan sejak kelas 5 SD. Bukan dipaksa tapi keinginan sendiri untuk membantu orang tua. Pagi sekolah, sepulang sekolah ikut mencetak batu-batu. 100 buah batu-bata hanya di hargai seribu rupiah. Aku pernah menjadi bagian mereka. Dari kecil sampai tamat SMA aku mengerjakan yang serupa. Tapi atas kekuasaan Allah, aku bisa sarjana. Sekarang aku buka kelas malam untuk mereka. Aku yakin mereka punya potensi yang luar biasa juga. Dimana ada kemauan disitu ada jalan…
 ***

Rosa Butar Butar

Penjaga Malam

Wak kios, demikian aku memanggil lelaki renta itu. Sebagai penjaga malam di areal perumahan yang kami sewa, bersama istrinya sambil menjual jajanan dengan variasi dan jumlah yang sangat sedikit pada kios berukuran 1,5 x 2.5 m. Karena pemilik perumahan tidak mengizinkan mereka meninggalkan pekerjaan walau sebentar, disitulah mereka melepas lelah sebentar secara bergantian. Udara dingin malam, panas siang hari, dan suara desing kendaraan di Jalinsum, mereka lalui tanpa keluhan di kios itu. Padahal jika mau, mereka sudah bisa hidup dari pemberian bulanan delapan orang anaknya yang sudah berumah tangga dengan berkecukupan.
“Aku tak mau jadi beban bagi siapapun.” itulah prinsipnya.
 ***

Zahara Putri
Peri

Aku ingin mempunyai sayap yang terbentang dan indah. Andai aku menjadi seorang peri aku akan terbang dari satu kota ke kota lain. Wah, khayalanku benar-benar imajinasi yang fantasi. Bagi aku peri itu ada untuk menolong manusia dan aku ingin menjadi sosok seperti itu. Aku ingin menolong korban bencana, kemiskinan, kelaparan, membantu permasalahan orang lain dan mengatasi segala permasalahan yang ada di dunia. Aku gak suka dengan keadaan negriku yang semrawut dan berbagai permasalahan melanda. Aku ingin hidup penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan. Aku juga ingin hidup penuh cinta kasih. Memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Indah dunia …..
 ***

Tien Tarmorejo
Bocah itu
“Pak…, Mamak kemana kok gak pulang-pulang?” Suara si sulung diantara isak tangisnya, tangan kecilanya mengaduk-aduk sepiring nasi dengan lauk tempe goreng yang bukan kesukaanya. Sang bapak sibuk menyuapi ke dua adiknya yang masih balita. “Mamak, ke pasar nduk.” Jawaban yang hanya itu-itu saja, dari hari ke minggu hingga bulan. Ke tiga bocah itu masih terlalu kecil tanpa belaian Ibu yang terpaksa meninggalkan mereka, bergelut dengan peluh mengadu nasip ke Ibukota.
 Siang harinya, ke tiga bocah itu dibawa Bapaknya ke sungai untuk mengumpulkan pasir, atau membuat batu koral. Si sulung bertugas menjaga adiknya ditepian sungai, berteduh dibawah kain yang diikat kepohon.
 ***

Tuti Lovely Asiah

Seorang janda tua...
anak dan suami telah pergi. Tinggal bersama cucu dan cicit yg banyak merupakan kebiasaan. mengurus mereka setiap hari. Tanpa jarak KB membuat jumlah menjadi 5 cicit. Memasak menggunakan kayu menggoreng kulit ayam pemberian tetangga. Sisa bahan untuk membuat bahan mi ayam. Hmm.. Berpuasa demi menghemat belanja. Menjajakan minyak tanah untuk membantu perekonomian... Tapi harus dijalani dengan ikhlas.
***

Isma Wati
Tukang Urut
Mbah Wakiyem, nama panggilannya. Umur sekitar 80 tahun. Setiap hari beliau berjalan, berkeliling menawarkan jasa sebagai Tukang Urut kepada para tetangga hingga kampung sebelah, di mana tempat beliau tinggal. Tak sedikit orang menolak. Raut wajahnya terlihat begitu renta, sangat tak bertenaga. Beliau tetap berjalan tak kenal lelah dan tak pernah mengeluh. Meski, imbalan yang beliau terima tak seberapa. Setakar beras yang ia dapat adalah penyambung nyawa, baginya. Hidup bersama seorang anak yang hanya buruh tani, hasilnya tak bisa di andalkan. Belum 4 cucu dan 3 buyut yang sengaja di tinggal pergi oleh orang tuanya. Adalah beban yang sangat luar biasa untuk beliau rasakan. Entah masalah makan dan juga biaya sekolah. Namun, beliau tetap bersabar dan selalu tersenyum dengan siapa saja yang di jumpainya, bersyukur.
Pernah, saat beliau mengurut kakiku karena tergelincir, hanya seperti rabaan anak kecil belaka untuk kurasakan. Aku memandang dan menyadari keadaan fisik beliau, memang sudah tua. Mungkin itulah alasan orang-orang, kenapa menolak jasa urutnya?
 ***

Fatimah Az-Zahra
ORANG GILA

Aku lihat seorang perempuan gila di jalanan itu hampir tiap hari. Ingin rasanya Aku memberikan makanan atau minuman untuk menolongnya. Tapi Aku takut memberikannya karena dia begitu galak, terlihat jika ada motor yang lewat dihadapannya dia pukul dengan tongkatnya yang seperti kayu bakar. Yah... termasuk diriku yang hampir kena pukul tongkatnya, Alhamdulilah Alloh masih melindungiku. Dari kejadian itu aku pernah berpikir Jika aku menjadi orang gila itu. Aku pasti akan menjadi orang paling merugi. Rugi akan kehilangan kebahagian dalam menjalani hidupku yang sementara ini. Sungguh rugi jika menjadi orang gila, tidak bisa merasakan nikmat yang Alloh berikan seperti Nikmat melihat, mendengar dan berkumpul bersama dengan orang-orang yang kita sayangi. Kita akan kehilangan nikmat hidup ini, yang bisa kita nikmati dengan sederhana seperti mencium harumnya bunga mawar. Sungguh perempuan gila itu, mengajarkan aku untuk lebih bersyukur dan lebih tegar dalam menjalani kehidupan ini, agar aku tak menjadi sepertinya. Menjadi apa pun kita asalkan kita sehat jiwanya, itu tidaklah masalah. Karena kebahagian kita yang sesungguhnya berada pada diri kita.

Kebahagiaanmu bukan ditangan orang lain,Tapi ditangan mu sendiri.
Bahagialah dengan kehidupan karena hidup itu Indah. Dengan segala kebaikan jadikanlah hidup ini indah.

***

Zahrah Satifa
PENCETAK BATA.

Tinggal di gubug beratap rumbia.Kulitnya yang legam tanda terik yang sering menyengatnya.Tangannya selalu penuh dengan tanah yang diolahnya menjadi batu bata.
Istrinya yang bergaun lusuh membawa sepiring singkong rebus.Menjadi keseharian menu makan siangnya.Dan keempat anaknya akan segera berkerumun mennyambutnya berjejer di dipan kayu tua di beranda.Siang itu, adik sulung nampak murung.Lelaki itu tau apa terjadi,setelah semalam adik sulung mengigau dalam tidurnya.
Dia beranjak sebelum menikmati singkong rebusnya.Dipangkasnya pelepah pisang lalu mengambil batangnya.Dipotongnya tak sama panjang, lalu di sambungnya potongan lain dengan lidi membentuk senapan.Adik sulung melonjak girang."Dor,Dor, Akulah tentara" teriaknya memainkan hadiah ayahnya.
Lalu berhenti sejenak dan berkata" ayah, kenapa kau selalu mencetak batu bata?kita tak kunjung kaya?.
"ini adalah bakal pondasi ribuan istana." lelaki itu menghibur.
Dan adik sulung berkata" aku yang akan membuatkan ayah istana saatku menjadi tentara.
Impian anak kecil yang kini jadi nyata.sang tentara anak pencetak batu bata.
Maysarah Bakri
Zakaria, bocah 13 tahun tanpa Ayah dan Ibu. Sampai detik ini, tak cukup mampu membahasakanmu banyak kata. Yang kutahu pasti, kau inspirasi, simbol kerja keras, keinginan yang kuat dan tentu saja simbol keceriaan dalam haru yang penuh.
Medan, 08/10/2011 21.10wib.
 ***

Chandra Ayudiar Arie
*Nini, Sang Penggembala Kehidupan..*

Nini, wajahnya renta, sebatang kara. Belum usai pergulatannya menyambung hidup yang mungkin takkan lama. Mencari rongsok atau daun pisang untuk dijual. Namun pekerjaan rutinnya adalah menggembalakan 3 ekor kambing tetangga demi upah sekedarnya. Dari terik hingga senja Nini harus menggembalakannya. Hingga mencari rumput dikerjakannya. Nini bahagia, begitulah dia mencurahkan kasih sayang. Tapi pagi itu bahagia Nini harus terenggut, pemilik kambing datang membawa paksa kambing-kambingnya. "Kambing-kambing saya semakin kurus, saya bawa pulang saja!". Nini menangis menatapi potret-potret usang di dinding bambu gubuknya. Mentari dan bintang-bintang itu telah lama meninggalkannya sendiri. Kini kambing-kambing kesayangannya pun pergi..
 ***

Rosika Azahra
Pengamen Tuna Netra

Dia tak bisa melihat. Setiap kali petang menjelang, dia selalu berjalan dari satu gang ke gang lain dengan sebilah tongkat demi mengetahui rute jalanan. Tangannya nampak cekatan memutar tape recorder andalannya.
Ah, tentang suaranya, mungkin jika mengikuti sebuah kompetisi tarik suara, dia langsung ditendang oleh para juri yang menilainya. Tapi dia tetap dengan keyakinanya “ begini lebih baik, dari pada harus berpangku tangan. Dan aku hanya ingat satu, bahwa hidup adalah sebuah amanat”
Dia masih saja begitu, berjalan mengikuti ruas jalan. Mencoba menghibur orang dengan suaranya. Karena hidup adalah amanat, batinnya berucap.
Lalu, bagaimana denganku Rabbi?
 ***

Lita Maisyarah Dechy
lelaki renta itu membasuh peluh. Matanya nyalang mencari penumpang. teriknya mentari siang menudung Kota Medan, namun tak jua gerakkan ia untuk rehat sejenak.
Ditanyainya setiap mahasiswa yg lalu lalang, berharap ada yg ingin menggunakan jasanya. Penarik beca itu, akhirnya tersenyum melihat seorang yg memanggilnya dari kejauhan. Aku menyaksikan adegan ini hampir setiap hari.
Pengayuh beca itu, Pak Andi. Renta bukan alasan untuk tidak lagi bekerja. Sering ku lihat dia terbatuk-batuk saat mengayuh, menandakan raganya mulai penat.
Tapi, semangat untuk menafkahi istri dan kedua anaknya, tak pernah padam. Mengenal kehidupan Pak Andi mengajarkanku untuk lebih menghargai hidup itu sendiri.
 ***

Yanthy Chan
Baba a, Teman kecilku
Donny nama aslinya, aku biasa memanggilnya baba a. Bukan sengaja aku memanggilnya seperti itu. Itu dikarenakan dia tidak bisa berbicara. Suara yang keluar dari mulutnya hanya sebuah kata ba..ba..atau aw..aw..saja. Terkadang malah tidak berbicara sama sekali karena dia malu bila mengeluarkan suaranya. Makanya aku memberinya julukan seperti itu. Bersamanya seperti mempunyai kakak laki-laki lagi. Ayah pernah berkata. “Jangan dzalimi anak seperti itu, kamu cukup tersenyum dan berikan semangat padanya. Itu sudah cukup”. Itulah yang kulakukan ketika beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengannya di Mall tempat dia bekerja sebagai Office Boy.
 Jakarta, 071011
 ***

h'AsRi Ar'Dilla
Pengepul sampah
mereka mengais dan mngorek2 lubang2 yang kita sendiri sering memalingkan atau bahkan memercingkan mata.... mereka melakukan tgasnya dengan penuh semangat.cinta akan lingkungan,dibayar dengan seikhlasnya untuk mghidupi keluarganya. inilah yang membedakan antara pengepul sampah dengan tukang rombeng atau pemulung,yg malah bisa membayar barang-barang bekas orl
 ***

Rahimah Yulia Fransiska
Jika Aku menjadi

Dia adalah mahasiswa. Aktivis sekaligus intelektualis.
Idealis juga. Kuliahnya dibiayainya sendiri. Dengan menjadi pelayan cafe, yang gajinya 500 ribuan. Prinsip hidupnya sangat simpel tapi luar biasa. Seperti "lilin".
Pemuda yang rela mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain. Oh ya, satu lagi...dia juga religius. Kesederhanaannya dan kebersahajaannya yang membuat dia luar biasa.
Aku cukup mengenalnya, karena dia kawan kampusku.
Semoga aku bisa sesederhana dia.
 ***

Zahara Putri
PERI

Aku ingin mempunyai sayap yang terbentang dan indah. Andai aku menjadi seorang peri aku akan terbang dari satu kota ke kota lain. Wah, khayalanku benar-benar imajinasi yang fantasi. Bagi aku peri itu ada untuk menolong manusia dan aku ingin menjadi sosok seperti itu. Aku ingin menolong korban bencana, kemiskinan, kelaparan, membantu permasalahan orang lain dan mengatasi segala permasalahan yang ada di dunia. Aku gak suka dengan keadaan negriku yang semrawut dan berbagai permasalahan melanda. Aku ingin hidup penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan. Aku juga ingin hidup penuh cinta kasih. Memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Indah dunia …..
 ***

Echa Kare
"Jika aku menjadi= Tukang Sapu"

Sosok yang gagah berani,teguh pendirian,dan tak pantang menyerah.Wajahnya selalu terukir dengan keceriaan tanpa mengeluh mengerjakan pekerjaan yang kebanyakan orang meremehkannya,tukang sapu.Terik panas yang menyengat tak menjadi halangan untuk menjaga kota Semarang semakin indah dan mempertahankan gelar Adipura.Kegigihannya menuntutku agar tidak mudah menyerah.
Aniq Rose Hubby PoetriZen
wanita paruh baya perkasa
menyalakan tungku saat manusia masih terlelap.
Menggadaikan jam tidur demi sesuap nasi anak2nya.
Mengolah tanah ketika ketika matahari naik sepenggalah.
Tak mengenal lelah mengairi sawah walau matahari telah memerah.
Karena tangan2 kokoh tak lagi kokoh.
Aku menangis tersedu menyaksikan itu.
Tapi Maafkan aku bunda..
Karena aku tak sehebat bunda..
 Kata seseorang. Ketika ayah meninggal maka ibu akan dengan perkasa mengambil alih fungsi ayah sebagai tulang punggung keluarga.
Tapi ketika ibu meninggal maka tiada sesiapapun yang akan sanggup menggantikan posisinya.
Maka seorang ibu lebih pantas dihormati 3x lipat melebihi ayah.
 ***

April May My
Jika Aku Menjadi
Pak Leboy-Petani Sayur mayur
Tubuhnya hitam legam karena terbakar sinar mentari. Di usianya telah renta ia masih saja mencangkul tanah, untuk di tanami sayur-sayuran. Itu ia lakoni untuk menopang hidupnya dan isterinya. Untuk mendapat hasilnya ia harus menunggu berbulan-bulan lamanya. Bila tanamannya bagus baru ia mendapat pemasukan. Tapi bila tanamannya di serang hama, tak terbayang hutangnya untuk biaya hidup sehari-hari dan membeli pupuk tanaman. Bila aku menjadi dirinya, tak terbayang apakah aku bisa menjalaninya.
 ***

Inara Ham
Brpuluh KM, tx prnah lelah ia kayuh spd bututnya..
Spda yg ruji"nya sdh bnyk yg ptah, rapuh krn usia..
Spd dg karat d sana sini yg sllu mnmninya mnjljah jalan brdbu d sgla musim.
... Apa kau pkir ia mnaikiny s'org diri?
TIDAK!!!
3 pnerus bngsa brbalut merah dan putih lusuh ia bwa brsma d ats spd it.
Ya mrka adlh putra putrinya.
Ia lwn bekunya embun pgi hri.
Ia tantang terik mentari kala tengah hari.
Peluh mengucur mmprjelas gurat dan keriput d wajah pasrahny.
Namun ia ttp melaju, membawa 3 prmta htinya mngejar mimpi. Mnuntut ilmu d daerah tetangga.

Ket tmbahan :
trnyta sbgmnpun ortu it tdk mmpu, ia msi trs brjuang agr anak2ny bsa mndptkn yg trbaik trmsuk pndidikan.
Mnrt sya, it adlh hal yg mengagumkn. *ni nyata lo!* :)
 ***

Danu Prastyo
Manusia Jalanan.

Jika aku menjadi manusia jalanan. Yang lahir di jalanan. Tumbuh di jalanan. Hidup di jalanan. Bernafas dari Jalanan. Aku tidak akan pernah bisa merasakan indahnya dunia. Tidak akan pernah tahu sisi lain dunia. Karena bila aku lahir di jalanan dan tumbuh hidup, bernafas di jalanan. Maka, sejak itulah kakiku mengakar di Jalanan. Tanpa Jalanan aku tidak akan ...bisa makan, karena hanya jalanan yang memberiku ruang untuk meraih rejeki, mengumpulkan asa meski hanya untuk sesuap nasi. Jalanan juga merupakan rumah tanpa jendela. Menyelimutiku dengan nyata. Bahwa Jalanan adalah sebuah ruang yang tanpa kau sadari adalah sisi lain dunia nyata lawan dari fana. Ketika ada tangis, takut ataupun tawa di Jalanan, Oleh manusia jalanan. Semua itu adalah adalah kejujuran dari Dunia. Kejujuran dari sebuah kata yaitu Kehidupan.

Semarang, 8 Oktober 2011 / 15:27
 ***

Yulina Trihaningsih
Jika Aku Menjadi: Bang Udin, Petugas Sampah.

Bang Udin, sosok yang tidak banyak bicara, namun jasanya sungguh luar biasa. Setiap hari, tugasnya memindahkan sampah-sampah rumah tangga dari tempat sampah ke gerobak besarnya, untuk kemudian dia bawa ke tempat pembuangan sampah di luar komplek ini. Bahkan bangkai-bangkai busuk binatang seperti tikus, dan terkadang kucing yang terlindas mobil..., harus beliau hadapi tanpa keluhan.
Pernah suatu hari, dengan sedikit malu, dia serahkan selembar kertas foto copy untukku. Isinya ternyata undangan acara khitanan anaknya yang ditulis dengan tulisan tangan. Aku terenyuh. Mungkin, bagi sebagian orang dia bukanlah siapa-siapa. Tapi, tanpanya, tidak bisa kubayangkan akan jadi seperti apa lingkungan rumah kami.
***
Achmad Faizal
      Diana adalah bungsu dari lima bersaudara. ayahnya hanya bekerja sebagai petani kecik dan penggembala hewan ternak tetangga sedangkan ibu tidak bekerja apa-apa. keempat saudaranya telah dipinang dan memiliki kehidupan masing-masing. diana ya...ng memiliki mimpi menjadi seorang sutradara dan produser film ini berbeda dengan saudara-saudaranya, yakni dengan melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA di Situbondo. namun untuk mewujudkan mimpinya itu tidak semulus yang diharapkan. dia harus menunda kuliah selama dua tahun, dengan mengajar bahasa Indonesia di pondok pesantren setempat. berbekal tekad dan mimpi yang besar itu akhirnya Diana dapat melanjutkan pendidikan di jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember. doa, air mata, dan peluh panas telah membakar niatnya untuk menggapai mimpi-mimpinya itu. beasiswa yang didapatkan tidak disia-siakannya, berawal dari sinilah upaya seorang Diana dimulai dengan segala kreatvitas yang dimilikinya.
      Berkayuh sepeda ontel tua sekitar 5km ditempuhnya setiap hari menuju kampus tak pernah lelah melawan terik matahari dan debu jalanan. maklum, Diana tidak memiliki uang yang cukup untuk kos di dekat kampus sehingga dia menumpang di rumah bibinya di jember. namun itu semua tak pernah memupusnya untuk menggapai mimpi agung itu. disela senggang kuliah Diana menerima order lukisan foto, menyulam, menjualkan tas kerajinan tangan motif batik, bross dan lain-lainnya. selain aktif di berbagai organisasi intra kampus, dia juga mahir menulis, baik artikel, esei, skenario, puisi, cerpen serta komik. banyak lomba yang diikutinya, sehingga pernah menjuarai 5 besar lomba puisi se-Jatim, dan juara 3 lomba komik sejarah nasional yang diadakan oleh Dinas pariwisata Indonesia di Palu. mimpinya untuk menjadi seorang sutradara sangat membara dibenaknya, pengalaman untuk mewujudkannya itu telah dibuktikannya ketika menjadi sutradara pada pertunjukan teater tunggal di aula fakultas sastra UNEJ.
***
Yully Riswati
Parmen

Bukan salah namaku Parmen, jika aku menjadi pengamen. Bukan pula salah Emak mengandung, jika aku terlahir buntung. Lihatlah, aku masih beruntung, meski miskin harta tapi kaya semangat hidup. Aku berdiri dengan satu kaki di perempatan ini, setiap hari, sebagai usahaku menjemput rizky. Tangan buntungku tak menengadah untuk mengemis atau ku pamerkan agar orang menangis kasihan. Tuhan menganugerahiku suara merdu. Sebagai rasa syukur, ku gunakan untuk menghiburmu. Sesungguhnya bagaimana pun sempurnanya tubuh kita, tak ada yang lebih membahagiakandari kesempurnaan iman. Dan itu yang ku pinta dalam setiap munajad cintaku.

~end~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar